Menanti Nasib Bukalapak...


Tiga bulan terakhir layar kaca kita disuguhkan dengan pemandangan iklan sebuah toko online baru yang minggu lalu telah merilis bahwa mereka merupakan toko online nomer satu di Indonesia, toko online tersebut adalah Shopee Indonesia. Tak berapa lama, Blanja.com e-commerce garapan ebay bersama dengan Telkom Indonesia juga meriis iklannya di media-media mainstream di Indonesia. Blanja.com digadang-gadang akan menjadi pesaing berat e-commerce lain yang telah menikmati pahit-manisnya dunia e-commerce di Indonesia. Dan di awal bulan Mei ini dunia e-commerce Indonesia digemparkan dengan informasi bahwa rival utama Alibaba, JD akan melakukan investasi yang dapat menjadikan tokopedia sebagai unicorn (memiliki nilai lebih dari USD 1 Milliar) kedua setelah Go-Jek. Sedangkan Alibaba yang merupakan raksasa internet Tiongkok telah mengakuisisi Lazada di tahun 2016 yang lalu. Kondisi tersebut menunjukkan betapa sengitnya persaingan antar e-commerce di Indonesia.



Indonesia merupakan lahan potensial pengembangan e-commerce, dimana pangsa pasar terus berkembang sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang kian membaik. Maka tak mengherankan raksasa-raksasa e-commerce seperti Garena melalui ShopeeEbay dan Telkom melalui Blanja, Softband melalui Tokopedia, Alibaba melalui Lazada, XL-Axiata dan SK Planet melalui Elevenia, Djarum Grup dan BCA Grup melalui blibli.com, Emtek melalui Bukalapak, dan Lippo Group melalui MatahariMall.com kian gencar melakukan investasi untuk dapat atensi dan untuk bertahan di ketatnya persaingan. Untuk profit, sejauh yang saya tahu belum ada satu start-up Indonesia yang telah memperoleh profit.

Di tengah kompetisi yang kian sengit, Bukalapak yang merupakan salah satu pionir e-commerce di Indonesia justru terlihat tidak begitu agresif. Bahkan di awal tahun 2017, Bukalapak sempat diisukan oleh TechInAsia bakal diakuisisi oleh kompetitornya sendiri yakni Tokopedia. Meskipun pada akhirnya kabar tersebut dibantah oleh pihak Bukalapak dan Tokopedia. Namun setidaknya kondisi tersebut menggabarkan betapa lemahnya Bukalapak di mata pengamat perusahan teknologi sekelas TechInAsia.

Dalam pandangan saya sendiri, scenario OLX mengakuisisi berniaga lantas mengakuisisi tokobagus bukan tidak mungkin terjadi kembali pada tokopedia dan Bukalapak. Tampilan dan layanan yang ditawarkan oleh tokopedia dan Bukapalak bisa dikatakan serupa, sama halnya ketika berniaga dan tokobagus diakuisisi. Saat itu kondisi tokobagus dalam keadaan yang sangat prima, bisa dikatakan semua orang mengenal tokobagus. Akan tetapi, karena keuangan yang tak memungkinkan melawan OLX, maka tokobagus pun dilepas ke OLX yang merupakan raksasa internet dunia. Dan bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi pada Bukalapak. Namun tetap, nasib Bukalapak bergantung pada keputusan sang CEO, Achmad Zacky.

Dalam hemat saya sendiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan Bukalapak untuk bertahan hidup di dunia e-commerce Indonesia. Yang pertama, rebrand tampilan. Entah pernah diteliti atau tidak, saya yakin sebagian pengguna Bukalapak akan (setidaknya saya) mudah jenuh dengan tampilan Bukalapak dengan warna merah dengan tipe yang saya tidak ketahui. Yang kedua, make it classy. Meskipun seller yang digandeng Bukalapak berfokus pada UKM setidaknya janganlah menjadikan UKM sebagai bargaining dalam marketing. Karena disadari atau tidak, buyer online merupakan masyarakat yang sedang naik kelas. Dan ketika orang sedang naik kelas, maka brand-brand yang terlihat “bawah” bukanlah pilihan, akan tetapi Bukalapak melakukan hal itu dengan mengemas UKM tetap terlihat seperti UKM yang di pandangan khlayak masih belum “classy”. Yang ketiga, sudah saatnya Zacky berhenti mengisi seminar. Iya, berhentilah mengisi seminar Mas Zacky meskipun berbagi pengalaman dan ilmu itu penting. Namun harus Mas Zacky ingat, sudah berapa rupiah yang telah dibakar Bukalapak untuk rising di dunia e-commerce Indonesia? Sudah cukup kah? Kalau belum, berhenti isi seminar dan datangilah investor! Emtek tak akan mampu menopang Bukalapak dalam persaingan melawan raksasa-raksasa yang lain.

Namun tetap, pada akhirnya nasib Bukalapak bergantung pada keputusan Achmad Zacky sang CEO.

0 Response to "Menanti Nasib Bukalapak..."

Post a Comment